
Membaca kumpulan karya ini seperti diajak mengintip isi hati seseorang yang sedang belajar dewasa. Kita memulai perjalanan dengan puisi-puisi karya Sahlun Bela Musyafa yang terasa sangat berani. Dalam puisi "Dinding Penolakan", ada sebuah kejujuran tentang bagaimana rasanya menjadi anak muda yang suaranya sering dianggap sepi hanya karena faktor usia. Kalimat "usiaku sering kau jadikan dinding / Agar suaraku gugur di balik usia" menggambarkan betapa sesaknya ketika pendapat kita tidak didengar.
Penulis seolah ingin menyampaikan bahwa menjadi dewasa itu bukan soal pura-pura sabar, melainkan berani mengakui rasa sakit yang nyata. Hal ini ditegaskan dalam baris: "Jangan kau ukur aku dengan sabar palsu / Sebab aku tumbuh dari luka nyata". Namun, keberanian itu perlahan berubah menjadi ketenangan yang dewasa dalam puisi "Sunyi", di mana rindu yang dalam tidak lagi diteriakkan, melainkan dititipkan lewat doa yang syahdu di atas sajadah.
Pergulatan batin ini semakin terasa dalam karya Saihan Allya Khairunnisa yang berjudul "Ini Tentang Sabar". Pernahkah kalian merasa sangat marah sampai rasanya ingin meledak, tetapi harus tetap diam? Itulah beban emosi yang digambarkan Saihan: "Aku sibuk membendung bara / Terserah saja apa katamu / Hampir saja ini menggelegak". Di sini kita belajar bahwa sabar bukanlah sikap diam yang pasif, melainkan cara kita menjadi "nakhoda" atas perasaan sendiri agar tidak meledak begitu saja.
Ketegangan psikis itu akhirnya mencair menjadi kebahagiaan sederhana dalam puisi "Menjelang Waktu". Penulis menangkap momen hangat saat menunggu buka puasa di tengah aroma gorengan dan detak jam dinding tua. Penantian tersebut terbayar tuntas saat azan berkumandang: "Lantunan yang kunantikan telah terkumandang / Pecahkan rasa yang tertahan / Rasa sabar terbayarkan".
Sebagai penutup, cerpen "Ramadhan Tanpa Suara Ketukan" karya Anjani Kirana Putri membawa kita pada kisah tokoh Senja yang kehilangan kakek tercintanya. Bayangkan betapa sedihnya ketika ritual "tiga ketukan" pintu saat sahur yang biasa dilakukan kakek, kini hanya digantikan oleh bunyi getar alarm ponsel yang terasa asing. Senja sempat merasa tidak siap menghadapi kenyataan dan terus menatap pintu yang sunyi.
Namun, ia akhirnya menemukan kekuatan lewat sebuah pesan wasiat bahwa "doa adalah cara kita tetap berbicara dengan orang yang kita cintai". Cerita ini mengajarkan kita sebuah pelajaran hidup yang penting: meskipun orang yang kita sayangi sudah tiada, kasih sayang mereka tetap hidup di dalam hati. Melalui ketiga karya ini, kita diajak memahami bahwa sedih, marah, dan rindu adalah hal yang wajar, asalkan kita tahu cara mengolah perasaan tersebut untuk menemukan kedamaian kembali.
