by Ren
Pak Bima berdiri di depan kelas IX-12, tubuhnya mematung seperti tiang bendera di hari tanpa angin. Di balik kacamatanya yang berembun samar, ia melihat deretan wajah yang disinari cahaya biru pucat dari layar ponsel. Keheningan di kelas ini bukanlah sunyi khidmat, melainkan desingan ramai dari ribuan chat yang tak terdengar yang melayang di udara.
Ia menatap Doni. Siswa dengan otak secerah bintang utara, namun karakternya terasa buram. Doni baru saja meraih Angka 100 dalam ujian Pendidikan Karakter, sebuah ironi yang mencekik napas Pak Bima. Ia tahu, Doni adalah perwujudan sempurna dari masalah di zaman ini: pintar berperilaku, tapi lupa cara berintegritas.
"Doni," panggil Pak Bima. Ia tak lagi mencoba bersuara keras. Suara itu cukup dilemparkan pelan, agar menancap langsung ke telinga yang mendengarnya. "Kau tahu, Nak, karakter sejati itu bukan pakaian yang bisa kau ganti-ganti. Ia adalah kulitmu sendiri."
Doni mengangkat wajahnya. Di matanya yang cerdas, tersimpan semacam keangkuhan dingin. Ia tahu batas antara hukum dan moral. Ia tahu cara menghindari bukti.
"Mereka menuntut kejujuran tanpa mengajarkan risiko jujur," batin Pak Bima pedih. Di zaman ini, karakter hanyalah teori yang dihafal, bukan praktik yang dijalani.
***
Konflik meledak saat Risa, korban cyber-bullying Doni yang tersembunyi di balik akun anonim, resmi mengajukan pindah sekolah. Pihak sekolah memanggil Doni, dan yang paling pelik: Bapak Hendra, ayah Doni, seorang pengusaha sukses yang menyumbang banyak fasilitas.
Bapak Hendra, pengusaha sukses berjas mahal, melipat tangan di dada. Ia mewakili kekuatan modal dan kepintaran hukum. "Pak Bima, mari realistis. Kenakalan remaja kini pindah ke dunia maya. Selama tidak ada bukti kuat, sekolah tidak berhak menghakimi. Urusan karakter, biarkan saya yang urus. Anak saya harus fokus pada masa depan, bukan drama remaja."
Kata-kata 'masa depan' itu terasa seperti pisau. Pak Bima menyadari, bagi banyak orang tua modern, karakter adalah jembatan menuju nilai, bukan nilai itu sendiri.
"Bapak Hendra," balas Pak Bima, nadanya mendatar, bukan marah, melainkan kecewa. "Kita sedang mendidik calon pemimpin, bukan robot pintar. Robot hanya butuh data dan algoritma. Manusia butuh hati dan tanggung jawab."
Pak Bima menoleh pada Doni, yang duduk menunduk di samping ayahnya. "Doni, kamu pintar. Kamu tahu, algoritma itu hanya mengarahkanmu pada apa yang kamu cari. Jika kamu terus mencari pembenaran untuk menyakiti, maka itulah yang akan kamu temukan. Jati dirimu tidak bisa ditemukan dengan bersembunyi di balik anonimitas."
Kata-kata itu membuat Doni tersentak. Ia merasa, bukan ayahnya yang sedang dibela, melainkan ia yang sedang dipertanyakan oleh gurunya.
***
Pak Bima tahu ia tidak bisa menang di meja perundingan. Ia memilih memindahkan medan perang ke dalam hati murid-muridnya.
Di kelas, Pak Bima tidak membahas materi. Ia meminta semua murid menanggalkan topeng mereka.
"Bapak tidak akan bicara tentang nilai moral dari buku," katanya, sambil memegang pulpen. "Hari ini, Bapak akan bicara tentang ketidaksempurnaan."
Pak Bima mulai bercerita tentang kegagalan terbesar dalam hidupnya, tentang bagaimana ia pernah merasa iri, bagaimana ia pernah mencoba menyembunyikan kelemahannya dengan marah. Ia menceritakan rasa malu itu, bukan sebagai guru yang sempurna, tapi sebagai manusia yang sedang belajar hidup.
"Kalian terlalu sibuk membangun citra yang sempurna di media sosial, sampai lupa cara menjadi manusia yang jujur di dunia nyata," lirih Pak Bima. "Jadilah pahlawan, bukan di game atau di kolom komentar, tapi di depan cermin. Beranikah kamu mengakui semua kelemahan, kecemburuan, dan rasa iri di depan dirimu sendiri?"
Doni, yang tadi sempat memegang ponselnya, kini meletakkannya kembali. Kata-kata Pak Bima menembus lapisan pertahanan dirinya. Ia selalu cerdas dalam merangkai kata untuk orang lain, tetapi lumpuh dalam menamai perasaannya sendiri. Ia iri pada Risa, dan ia menyembunyikan iri itu di balik akun anonim yang kejam.
***
Sore itu, di meja Pak Bima, tergeletak sebuah surat dan sebuah flash disk kecil.
Surat itu ditulis dengan huruf yang terlihat tergesa-gesa, namun jujur:
Pak Bima,
Bapak benar. Saya tidak menemukan diri saya, saya hanya menciptakan kebohongan. Saya iri pada Risa, Pak. Saya ingin perhatian. Saya tahu, ayah saya akan sangat marah dan mungkin menyalahkan Bapak.
Tapi sekarang, saya harus membuat pilihan yang tidak akan membuat saya mendapatkan ‘like’ dari siapa pun. Saya harus memilih diri saya yang sebenarnya.
Isi flash disk itu adalah video pendek, direkam oleh Doni sendiri. Di video itu, wajah Doni terlihat lelah, tetapi matanya jernih. Ia mengakui semua perbuatannya, meminta maaf kepada Risa, dan berjanji akan menghapus akun anonim itu secara permanen. Ia telah memilih untuk menghancurkan reputasi palsunya demi Mencari Jati Diri yang sesungguhnya.
Pak Bima tersenyum. Senyum yang murni, bukan senyum kemenangan seorang guru, melainkan kelegaan seorang petani yang melihat benih karakternya akhirnya berani menembus kegelapan tanah.
Doni mungkin baru saja kehilangan reputasinya. Tapi pada saat yang sama, ia baru saja menemukan dirinya sendiri. Ia telah memilih pahlawan yang paling sunyi, tetapi paling sejati: pahlawan yang jujur kepada nuraninya sendiri.