Oleh Tim Kokurikuler 1
Pernahkah Anda mendengar seorang remaja berujar, “Reel-nya sama banget kayak hidup aku”?
Bagi banyak orang, ini mungkin hanya gumaman kekinian. Namun, bagi dunia pendidikan, kalimat ini adalah sebuah peta yang menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi kompas utama bagi anak dalam menentukan siapa dirinya. Konten-konten online kini bukan lagi hiburan sampingan, melainkan kurikulum tak resmi yang membentuk pandangan hidup.
Inilah mengapa SMPN 1 Rancabungur mengambil langkah tegas. Sekolah tidak memilih untuk melarang, melainkan memilih untuk membimbing. Respon itu terwujud dalam program Kokurikuler “Inspirasi Harian” sebuah upaya untuk menarik anak keluar dari pusaran digital, membawa mereka ke meja refleksi, lalu mengembalikan mereka ke dunia maya sebagai kreator, bukan sekadar pengikut.
Saat remaja memasuki masa pencarian jati diri, mereka cenderung mencari pembenaran dan kesamaan dari luar. Hari ini, cermin itu adalah layar gawai.
Sherry Turkle, seorang peneliti terkemuka dari MIT, dalam bukunya “Alone Together,” memaparkan bahwa di dunia online, kita didorong untuk menampilkan edited self, alias “diri yang sudah disaring.” Anak melihat influencer dengan hidup yang tampak sempurna dan merasa terhubung. Padahal, yang ia lihat adalah highlight, bukan keseluruhan alur cerita.
Program “Inspirasi Harian” bekerja persis di titik ini. Ini adalah sesi terapi bagi pemikiran: “Benarkah konten itu inspirasi, atau hanya bayangan diri ideal yang kita kejar?” Ini adalah ajakan untuk membedah reel tersebut dan membandingkannya dengan kenyataan hidup yang riil.
Masalah terbesar konten viral adalah sifatnya yang terpotong dan terputus dari konteks aslinya. Satu klip saja sudah cukup untuk memicu emosi, padahal pesannya bisa jadi salah arah. Untuk membekali siswa, sekolah menerapkan prinsip literasi kritis yang diusung oleh Henry Jenkins dalam karyanya “Convergence Culture.” Jenkins mendorong kita untuk beralih dari sekadar menjadi penonton (konsumen) yang pasif menjadi peserta aktif yang mengurai dan mempertanyakan isi media.
Di kelas kokurikuler, anak-anak dilatih menjadi kritis. Mereka tidak hanya menerima konten mentah-mentah. Mereka ditantang mencari konteks, menimbang, dan memastikan bahwa pemaknaan yang mereka ambil adalah pemaknaan yang utuh dan cerdas, bukan sekadar ikut-ikutan tren.
Proses belajar ini tidak bisa diurus oleh satu guru saja. Untuk menciptakan konten yang powerfull, dibutuhkan perpaduan sempurna dari tiga elemen kunci: Isi, Teknis, dan Estetika.
Maka, program ini mensinergikan tiga mata pelajaran secara mulus:
- Bahasa Indonesia (Pilar Isi): Fokus pada kekuatan literasi bahasa untuk menggali suatu kutipan secara mendalam sesuai konteks serta memberi pemahaman tentang makna yang diambil dari ucapan orang lain dapat dijadikan ide untuk membuat karya cersi dirinya
- Informatika (Pilar Teknis dan Etika): Fokus pada pelaksanaan dan aturan main. Anak menguasai alat produksi (aplikasi edit), dan yang terpenting, mendalami etika digital, hak cipta, serta keamanan online.
- Seni Budaya (Pilar Estetika): Fokus pada daya pikat visual. Anak dilatih memilih komposisi visual, warna, dan musik yang tepat, sehingga karyanya tidak hanya benar, tetapi juga indah dan enak dinikmati.
Kolaborasi ini menghasilkan karya digital yang seimbang—berisi, cantik, dan bertanggung jawab.
Puncak dari semua rangkaian proses kritis dan kreatif ini adalah Sidang Karya. Ini bukan hanya acara pameran sekolah biasa, melainkan sebuah forum formal di mana setiap siswa harus mempertanggungjawabkan karyanya di hadapan tim penilai (yang terdiri dari guru lintas disiplin). Di hadapan tim, siswa harus mempresentasikan karyanya dan mempertahankan setiap keputusan yang mereka ambil: mulai dari sumber inspirasinya, proses kritis yang dilakukan, hingga pesan moral yang ingin mereka sampaikan.
Sidang Karya ini adalah simulasi nyata dari tanggung jawab publik. Anak-anak belajar bahwa setiap yang mereka unggah ke dunia maya memiliki konsekuensi dan memerlukan justifikasi yang matang. Dengan demikian, SMPN 1 Rancabungur tidak hanya meluluskan anak yang mahir menggunakan gawai, tetapi juga generasi yang sadar diri, kritis, dan siap menjadi kreator konten yang bertanggung jawab di ruang publik digital.