Oleh Ren
***
Nara tidak pernah menduga bahwa waktu, yang dia pelajari di sekolah selalu bergerak lurus ke depan, ternyata bisa berjalan mundur di dalam rumahnya sendiri. Bukan jamnya yang rusak, tapi Bapak. Dulu, Bapak adalah pohon besar yang tegar; kini, Bapak hanyalah tumpukan tulang yang rapuh di sofa. Bapak kembali membutuhkan bantuan untuk menelan dan, yang paling menyakitkan, untuk hanya ada.
Setiap pagi, Nara memasak bubur yang sama. Bubur hambar, tanpa janji masa depan. Ia ingat, Bapak selalu menyajikan sarapan dengan piring porselen bergambar ayam jago yang retak. Setiap retakan itu adalah bekas kenangan—pernah tumpah, pernah jatuh, pernah ada tawa. Piring itu adalah catatan masa kecilnya.
Kini, piring itu masih dipakai, tapi Bapak menyantapnya dalam kebisuan yang tebal. Nara menyuapi Bapak dengan gerakan yang sangat hati-hati, seperti seorang pelukis yang sedang menghapus karyanya.
Dulu, saat Bapak menyuapi Nara, itu adalah dorongan untuk tumbuh. "Makan, Nak. Biar kamu cepat besar, biar kamu bisa melihat dunia luas," kata Bapak. Suapan itu adalah harapan agar Nara pergi jauh dan mandiri.
Sekarang, saat Nara menyuapi Bapak, itu adalah upaya untuk menahan. "Makan, Pak. Biar Bapak masih di sini, biar kita punya waktu sebentar lagi." Suapan itu adalah permohonan agar Bapak tidak cepat pergi.
***
Kamar Bapak kini punya bau yang khas: seperti aroma tanah setelah hujan, seperti bau kain yang sudah usang, seperti aroma perpisahan yang sudah lama ditunda. Nara selalu membuka jendela lebar-lebar, membiarkan suara ribut dari luar masuk, berharap keramaian itu bisa menarik Bapak kembali ke dunia nyata.
Namun, Bapak makin sering ‘pergi’. Ia sering bergumam sendirian, memanggil nama-nama yang sudah lama meninggal. Ingatannya bukan lagi tentang hari kemarin, melainkan tentang masa lalu yang terlalu jauh.
Suatu malam, Nara membersihkan pispot Bapak. Bau pesing yang menusuk dihirupnya dalam-dalam. Dulu, saat ia kecil dan mengompol, Bapak dan Ibu membersihkannya dengan sabar. Proses itu terasa seperti pengukuhan bahwa ia adalah manusia yang sedang belajar.
Kini, membersihkan Bapak terasa seperti pengurangan makna hidup. Setiap lembar tisu yang digunakan Nara adalah sebuah tindakan yang terpaksa, sebuah pengakuan bahwa orang yang paling ia hormati kini menjadi tidak berdaya. Cinta menjadi pekerjaan yang paling jujur: melihat orang yang kita sayangi kembali menjadi sosok yang sepenuhnya bergantung.
Pesan tersembunyi: Merawat anak adalah menanam benih harapan. Merawat orang tua adalah menuai pelajaran tentang akhir. Keduanya adalah cinta yang murni, tetapi tujuannya berlawanan.
***
Satu-satunya saat Bapak terlihat benar-benar sadar adalah di tengah malam, di bawah cahaya lampu kecil yang warnanya kuning, saat semua suara sunyi.
"Nak," bisik Bapak, suaranya lemah. "Kenapa kamu terus menyuapi Bapak?"
Nara duduk di samping ranjang, memegang tangan Bapak yang terasa ringan seperti ranting.
"Aku merawat Bapak," jawab Nara lembut. "Karena Bapak merawat aku."
Bapak tiba-tiba menarik tangannya dari genggaman Nara. Ada kekuatan terakhir yang muncul di matanya yang keruh. Tatapannya begitu tajam, menembus.
"Tidak!" Bapak berbisik keras, hampir berteriak, memutus kesunyian. Itu adalah kata paling jelas yang Nara dengar darinya dalam berbulan-bulan. "Kamu tidak sama dengan Bapak. Bapak merawatmu agar kamu berlari sejauh mungkin. Agar kamu menjadi lebih baik dari Bapak. Setiap tetes ASI, setiap suap nasi yang Bapak berikan, adalah tiketmu untuk pergi dan tidak menoleh ke belakang!"
Nara terdiam, air mata membanjiri pipinya. Ia belum pernah melihat Bapak sejelas ini sejak penyakit itu datang.
"Dan kamu?" lanjut Bapak, suaranya kembali lemah, tetapi penuh penekanan. "Kamu memberiku bubur, bukan untuk membuatku berlari, Nak. Kamu memberiku bubur hanya agar aku bisa diam di tempat ini sedikit lebih lama. Kamu bukan memberiku hidup. Kamu memberiku penundaan menuju kebebasan yang aku cari!"
Nara merasakan dunia berputar. Semua kehangatan dan kebaikan yang ia berikan terasa seperti sebuah egoisme yang kejam. Ia merawat bukan untuk Bapak, tapi untuk dirinya sendiri, agar ia tidak kehilangan.
Bapak tersenyum, senyum yang nyaris damai. "Kamu merawat untuk sebuah akhir. Bapak merawat untuk sebuah awal."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Bapak melepaskan napasnya yang terakhir. Napas itu sangat panjang, seperti tali yang putus. Tangan Bapak jatuh ke samping ranjang, ringan, dingin.
Nara tahu, bubur yang ia suapkan tadi pagi adalah suapan terakhir. Itu bukan bubur kehidupan, melainkan bubur perpisahan. Ia telah menyelesaikan tugasnya. Ia telah mengantarkan Bapak, bukan kembali kepada hidup, melainkan menuju nol—tempat di mana tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi waktu yang berjalan mundur, hanya kebebasan yang murni. Dan ia ditinggalkan di sini, sendirian, dengan piring ayam jago yang retak, dan sebuah kesadaran yang dingin.