Oleh Anjani Kirana Putri Kelas 9.8
PROLOG—TIGA KETUKAN
Sore hari dengan langit berwarna jingganya.
Warna yang selalu senja sukai.
Senja, kursi di teras rumah yang sedang ia duduki sambil memandangi langit yang memperlihatkan matahari terbenam. Angin menyapa kulitnya dengan lembut, membawa aroma tanah yang basah terkena air hujan. Tepat di sampingnya, Kakek duduk di kursi tua kesayangannya yang selalu berdencit setiap ia gerakkan. Kakek membuang nafas dan berkata dengan pelan, "huhh, Kakek sangat kagum melihat langit yang sangat cantik hari ini."
Senja mengangguk, "hehee cantik seperti namaku ya Kek?" Kakek tertawa mendengarnya. Terukir dengan jelas senyuman manis dengan keriput wajahnya yang menemani. "Senja, itu sebabnya Kakek menamaimu dengan nama itu" katanya. "Karena seperti sekarang, senja pasti datang membawa ketenangan bagi siapapun yang melihatnya.” Senja memiringkan kepalanya. "Tapi Kek, bukannya senja itu berarti hari akan berakhir?"
Kakek tersenyum dan memalingkan wajahnya kearah langit. "Cucuku, tidak semua akhir itu berarti buruk" katanya. "Terkadang supaya kita belajar menghargai waktu, suatu hal harus berakhir.” Senja mengerutkan keningnya. "Kakek ih ngomongnya aneh." Kakek hanya tersenyum mendengarnya. Kakek mendekat kearah Senja, lalu ia mengelus pelan rambut panjang Senja dengan rasa sayang. "Kalau suatu hari nanti kamu melihat Kakek sudah tidak ada di sampingmu seperti sekarang kamu harus tetap menjadi Senja yang kuat, ya?" Senja memprotes omongan Kakeknya, "Ah, Kakek kenapa berbicara seperti itu!" Kakek tertawa kecil. "Iya, iya. Kakek hanya bercanda saja"
Setelah itu, beberapa saat menjadi hening. Kicauan Burung yang menuju sarangnya terdengar jelas, langit berubah menjadi gelap.
"Kek," suara senja memutus keheningan.
"Iya nak?"
"Ramadhan nanti, Kakek akan tetap membangunkan Senja untuk sahur bersama, kan?" ucapnya. Kakek menatap hangat, "Tentu saja" ia mengangkat tangannya lalu mengetuk meja kayu.
Tok. Tok. Tok.
"Tiga ketukan," katanya. "Supaya Senja tidak kesiangan." Senja tertawa kecil. "Kalau Senja pura-pura tidak bangun saat kakek mengetuk bagaimana?" Kakek tertawa mendengar cucu kesayangannya berkata seperti itu, "Kalau Senja begitu, Kakek ketuk lagi."
Tok. Tok. Tok.
"Kakek akan terus mengetuk sampai Senja bangun dan membuka pintu untuk Kakek.” Senja tersenyum lebar. Saat itu ia belum mengetahui bahwa suatu hari nanti, ia akan merindukan suara ketukan itu lebih dari merindukan hal lain di dunia ini.
Waktu yang ditunggu-tunggu oleh senja, kehadiran Ramadhan dengan suara tiga ketukan.
Kakek memiliki cara tersendiri untuk membangunkan cucu kesayangannya sahur.
Tok. Tok. Tok
Namun pada Ramadhan tahun ini sangat berbeda, tidak ada suara ketukan, hanya suara alarm ponsel yang bergetar di samping tempat tidur yang menggantikan suara ketukan. Senja terbangun berharap Kakek masih menunggunya terbangun ditemani ketukan pintu, kenyataannya pintu yang ia tatap sedari tadi tanpa berkedip, sunyi.
Sesak. Rasanya seperti dada ini tertusuk oleh sesuatu. Tiga bulan lalu Kakek telah tiada, ia meninggalkan Senja menyisakan kenangan yang masih tersimpan. Sejak saat itu, rumah terasa sangat sepi.
Senja memaksakan dirinya keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Ibunya sudah duduk di meja makan, tetapi.. hanya ada dua piring, Kursi di ujung meja tetap kosong kursi Kakek. Tidak ada yang berani memindahkannya.
Senja mengangkat gelas berisi air putih, biasanya Kakek akan menjadi paling cerewet ketika waktu sahur tiba. Senja selalu disuruh untuk meminum air terlebih dahulu sebelum makan dan meminum lagi sesudah makan. “Biar Senja ini kuat puasanya nanti Kakek kasih hadiah” katanya. Sekarang meja makan pun terasa sunyi tidak ada lagi yang menyuruh Senja minum dengan cerewetnya yang selalu terputar di memori otak Senja.
“Senja makan dulu,” kata Ibu pelan. Namun hanya diam yang Ibu lihat, mata Senja masih menatap kursi kosong itu. “Bu,” Senja mengalihkan tatapannya menjadi menatap Ibu, “Ramadhan tahun ini Senja rasa aneh ya?”
Ibunya menghela nafas, Senja benar. “memang setiap tahunnya pasti ada yang berbeda” Ibu pun merasakannya. “Tapi rasanya seperti ada yang hilang Bu,” kata senja. Ibu tidak menjawab karna Ibu tahu siapa yang dimaksud Senja.
Angin menyapa kulitnya, sore hari Senja menunggu berbuka puasa dengan membersihkan ruang tamu. Di sudut ruangan, lemari kecil tua dari kayu berada disana seperti biasanya. Tepat di sanalah tempat Kakek menyimpan tasbih dan Al-Qur'an yang sering Kakek pakai.
Saat Senja menggesernya pelan untuk membersihkan debu dibawah lemari tersebut, sesuatu terjatuh ke lantai. Sajadah hijau tua. Itu sajadah milik Kakek. Senja menunduk untuk mengambilnya perlahan, Kain lembut masih memiliki lipatan yang sama. Salah satu sudutnya terdapat jahitan kecil yang pernah ia perbaiki. "Senja sudah besar, sudah bisa menjahit sajadah Kakek" ucapnya waktu itu lalu diiringi ketawa.
Kenangan itu datang tiba-tiba, terlalu tiba-tiba. Senja membentangkan sajadah itu di lantai, bayangan Kakek masih ada dalam memorinya. Punggungnya yang sedikit membungkuk ketika berdiri, suaranya yang lembut dan pelan saat membaca ayat-ayat yang menenangkan.
Tanpa ia sadari, air matanya jatuh sebelum ia sempat mdnahannya. "Kenapa harus Ramadhan, Kek..." bisiknya. "Senja?" Ibu datang dari dapur ketika mendengar suara tangis itu, "Ramadhan ini tidak sama lagi Bu, ini sangat berbeda Senja tidak mau," lirih Senja.
Ibunya menatap sajadah itu lama, "Kakekmu tidak ingin kita berhenti menjalani Ramadhan, Kakek akan marah melihat Senja tidak melaksanakan Ramadhan tahun ini" katanya pelan. "Tapi Bu, Senja belum siap dengan Ramadhan tahun ini"
Pada suatu malam, Senja jalan melewati ruang tamu dan matanya tertuju pada lemari Kakek. Ia membuka laci kecil pada lemari itu, di dalamnya terdapat tasbih lama yang sering Kakek pakai, foto keluarga dengan senyuman manis pada setiap orangnya, dan sebuah kertas yang dilipat rapih. Kertas itu penuh dengan tinta hitam yang diukir menggunakan jari keriputnya, tangan senja bergetar saat membuka kertas yang berisi tulisan Kakek.
“untuk Senja cucuku,
Jika suatu hari nanti Kakekmu ini sudah tidak ada di sampingmu, Senja jangan sedih terlalu larut ya? Ramadhan itu bulan yang penuh dengan cahaya terang, jangan biarkan kesedihan membuat hati Senja yang penuh cahaya menjadi gelap.
Jangan Senja kira Kakek tidak menemani Ramadhan tahun ini ya? Kakek selalu ada bersama Senja dimanapun Senja berada, jalani hari pada bulan Ramadhan ini sampai akhir ya nak..
Kakek selalu bangga pada cucu Kakek, dan yang harus Senja ingat doa adalah cara kita tetap berbicara dengan orang yang kita cintai.”
Huruf-huruf itu mulai tidak terlihat lagi karna air mata yang jatuh di atas tulisan. Untuk pertama kalinya sejak Kakek meninggal dunia, Senja menangis tersedu-sedu tanpa mencoba menahannya lagi seperti sebelumnya. Tangis yang selama ini ia sembunyikan akhirnya pecah karna pesan dari Kakek.
Malam terakhir Ramadhan akhirnya tiba dengan tenang. Suara takbir dari masjid menggema di seluruh penjuru desa. Senja berdiri menatap lemari Kakek itu, pada pikirannya kenangan kenangan bersama Kakek terputar kembali.
Tangan kecil Senja bergerak mengambil sajadah lembut milik Kakeknya. Ia membentangkan kain itu pada sudut ruang tamu sama seperti biasanya Kakek berdiri. Ia berdiri di atas sajadah dengan dada sesak dan seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Pada sujud terakhir, Senja berbisik pelan “Kakek, ini Senja yang sedang rindu pada Kakek.” Tidak ada jawaban. Namun entah mengapa dada nya yang sedari tadi sesak berubah menjadi tenang, sudah tidak ada lagi gemetar hebat pada tubuhnya seolah-olah doa itu telah menemukan jalan menuju langit.
Senja akhirnya membuka matanya, air mata menetes melewati pipi. Ia tersenyum ketika ia merasakan Kakeknya seperti berada di sampingnya menemani dalam keheningan. Kenangan bersama Kakek pun terus berputar di pikirannya, membuat hati Senja menjadi hangat. Ia ingat saat pertama kali Kakek mengajarinya shalat, mengajaknya bermain, dan paling teringat adalah tiga ketukan saat sahur.
Senja berdiri dan melipat sajadah hijau tua milik Kakeknya lalu menaruh kembali di lemari kecil. Dari jendela Senja melihat bintang-bintang menyapa dirinya, ia berjalan keluar untuk menikmati malam yang tenang. Senja duduk pada kursi kayu yang pernah ia duduki bersama Kakeknya sebelum tiada. Besok adalah hari Idul Fitri, tapi malam ini ia ingin menikmati sejuknya angin malam bersama kenangan Kakeknya.
“Kakek.. Senja di sini, temani Senja terus ya Kek? Senja akan selalu mengingat Kakek”
EPILOG—HANYA KENANGAN
Suara takbir masih terdengar, Senja membuka matanya sebelum alarm berbunyi. Langit masih tertidur bersama bintang-bintangnya, dalam keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara jarum jam yang terus berdetak. Ia merubah posisinya menjadi duduk di tepi tempat tidur, matanya mengarah pada pintu kamarnya yang masih tertutup, seolah-olah menunggu sesuatu yang sudah tidak akan datang lagi. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara langkah kaki. Tetapi Senja tidak bergerak pergi, ia tetap menunggu, menunggu sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, menunggu sesuatu yang sudah tidak ada lagi.
Beberapa detik sudah berlalu, bunyi dari jarum jam pun tetap berjalan, menandakan waktu yang terus berputar, tidak peduli apakah Senja masih menunggu atau tidak. Lalu ia tersenyum kecil karena menyadari sesuatu, Mungkin suara ketukan itu memang sudah berhenti, namun rindu tidak benar-benar pergi. Ia berdiri dari tempat tidurnya, kaki telinya menyentuh lantai yang dingin, membuat ia merasa lebih dekat dengan kenyataan.
Ia pergi membuka pintu kamarnya, lalu berjalan menuju ruang makan, tempat di mana Kakek biasanya membangunkan dia untuk sahur. Sebelum melangkah pergi, Senja menatap lorong rumah yang sunyi, ia berbisik pelan “Kakek, terimakasih sudah membangunkan Senja setiap sahur, Kek.” Suara bisikannya seolah-olah di jawab oleh keheningan, membuat ia merasa lebih dekat dengan Kakek.
Di luar, langit perlahan berubah warna, seperti senja yang datang setiap harinya, membawa harapan baru, membawa kenangan lama. Di dalam hati, di dalam pikiran Senja, memori kenangannya bersama Kakek dan tiga ketukan itu akan selalu ada. Tok. Tok. Tok. Ketukan yang kini hanya terdengar dalam doa, namun justru disitulah tandanya Kakek tidak pernah benar-benar pergi. Senja tersenyum, merasa Kakek masih ada di sampingnya, menemaninya dalam setiap langkah hidupnya
Dalam keheningan pagi, Senja merasa damai, merasa Kakek masih bersamanya, menemaninya menikmati hari-hari yang akan datang. Ia tahu bahwa kenangan bersama Kakek akan selalu ada, dan itu sudah cukup untuk membuatnya terus melangkah maju.