#6TNSSerialRamadan Raksasa Pemakan Bulan
Home » Karya Fiksi  »  #6TNSSerialRamadan Raksasa Pemakan Bulan

Oleh Nalabrahma

WhatsApp Image 2026-03-11 at 04.21.08

Di sebuah negeri yang bernama negeri malam, negeri yang tak pernah ada siang. Hanya bulan yang menerangi hari-hari di negeri malam. Negeri itu selalu ramai oleh nyanyian-nyanyian anak-anak yang bermain di seluruh penjuru negeri, bernyanyi tentang kebaikan bulan yang selalu menemani mereka bermain. Semua anak senang dengan nyanyian itu, begitupun bulan. Bulan semakin terang sinarnya ketika anak-anak dengan riang menyayikan lagu itu.

          Seperti biasa Komil, Dungga, dan Peruk bermain bersama di bawah sinar bulan

“Negeri ini memang negeri yang indah ya, setiap hari kita bisa bernyanyi di bawah sinar bulan” kata Dungga.

“Aku tidak pernah bosan dengan nyanyian itu, bulan juga jadi makin indah dan tenang oleh nyanyian kita” kata Komil. Mereka pun melanjutkan nyanyian mereka lagi.

Namun berbeda dengan Dungga dan Komil, Peruk hanya berbaring di bawah pohon dan sesekali menguap bosan dan mengantuk. Dungga dan Komil pun menghampiri Peruk.

“Hei Peruk kau tidak mau ikut bernyanyi?” kata Dungga

“Kalau kita tidak bernyanyi nanti raksasa merah akan memakan bulan tahu!” tegas Komil.

“Ah tidak, kalian saja yang bernyanyi. Aku sudah bosan dengan nyanyian itu” kata Peruk dengan ketus dan tidak peduli.

Dungga dan Komil hanya mengegeleng-gelengkan kepala. Dungga dan Komil kembali bernyanyi dan bermain sambil berputar-putar membentuk lingkaran. sedangkan Peruk yang bosan, akhirnya tidur dibawah pohon.

          Ketika Peruk tidur jatuhlah buah dari pohon di atas Peruk tidur, buah itu menimpa kepala Peruk dan membangunkannya. Tiba-tiba di samping Peruk  seorang kakek duduk memerhatikannya, Peruk pun kaget.

“Siapa kamu?” tanya Peruk dengan takut.

“Aku adalah pengelana yang kebetulan mampir ke sini” kata Kakek sambil mengipasi dirinya dengan topi jerami

“Mau apa kakek mendekatiku” kata Peruk.

“Aku hanya ingin istirahat dibawah pohon, sama dengan dirimu nak” kata Kakek sambil tersenyum.

Peruk tidak banyak bertanya lagi dan memberikan kakek tempat untuk istirahat di bawah pohon, kakek pun senang dan sebagai ucapan terima kasih, kakek itu memberikannya hadiah.

“Apa ini kek?” selidik Peruk

“Nanti kau juga tahu”

Peruk girang dan langsung berlari menghampiri Dungga dan Komil ingin memberitahukan apa yang dia dapat. Peruk pun membuka hadiah tersebut di hadapan Dungga dan Komil. Hadiah itu terbungkus oleh kotak yang dilapisi kertas berwarna emas dengan pita warna hitam. Dengan tidak sabar Peruk pun membuka kotak itu, dan didapatinya sebuah tongkat kecil dari kayu dan kertas bertuliskan

Ini adalah tongkat ajaib, tongkat ini dapat membuat mainan apa saja yang diinginkan.

 “Hei tongkat aku mau mainan robot-robotan” pinta Peruk sambil mengayunkan tongkat ajaib itu.

Benar saja robot-robotan berwarna perak dengan tameng seketika muncul di hadapannya. Dungga dan Komil terkejut, mereka meminta pada Peruk sebuah mainan juga, lalu dikabulkanlah permintaan mereka.

          Peruk kemudian punya ide, ia ingin semua anak punya mainan sebab dia merasa sering terganggu dengan nyanyian untuk bulan yang dinyanyikan oleh anak-anak di seluruh negeri malam

“Kuberi mainan saja semua anak-anak di negeri ini, agar mereka lupa dengan nyanyian itu” kata Peruk dalam hati.

Permintaan Peruk tekabul, malam jadi sunyi karena semua anak di negeri malam sudah tidak lagi bernyanyi dengan adanya mainan baru yang bagus di tangan mereka.

          Di kejauhan kakek yang memberikan Peruk hadiah tertawa melihat apa  yang dilakukan Peruk, kemudian dia berubah wujud menjadi sesosok raksasa berwajah merah dan melompat menggapai bulan. Bulan kini ada di tangannya, bulan itu kemudian dia makan dengan lahapnya. Bulan telah hilang, negeri malam menjadi sangat gelap. Semua anak-anak di negeri malam ketakutan.

“Ini salah kamu Peruk, kalau saja kamu tak memberikan kami mainan, pasti bulan tidak akan dimakan raksasa merah, sekarang harus bagaimana?” kata Komil sambil menangis.

“Maafkan aku teman-teman, karena kemalasanku raksasa merah memakan bulan. Tapi kalian jangan takut. Aku pernah dengar bahwa bulan akan tumbuh kembali ketika kita menanam gigi raksasa merah ke dalam tanah” hibur Peruk.

          Dengan berani Peruk, Dungga, dan Komil datang ke gua tempat dimana raksasa merah tinggal. Ia menyelinap ke gua itu. Terdengar raksasa merah yang sedang mengerang kesakitan, ternyata raksasa merah sedang sakit gigi dan berusaha mencabut giginya yang sakit. Tak lama raksasa berhasil mencabut giginya yang sakit, lalu meletakkan gigi itu di atas perapian, berniat akan membakar giginya yang tanggal itu. Selagi raksasa lengah, Peruk, Dungga dan Komil diam-diam menngambil gigi itu dan kabur meninggalkan gua ke tempat persembunyian yang aman dari raksasa. Dengan segera mereka menguburkan gigi itu ke dalam tanah. Raksasa merah sadar giginya yang tanggal telah hilang, ia meraung-raung marah mencarinya. Suara raungan raksasa merah terdengar sampai ke seluruh negeri malam. Semua anak di negeri malam bernyanyi untuk bulan mengusir ketakutan karena raungan raksasa merah.

          Dengan ajaib dari tanah tumbuhlah sebuah pohon bulan yang menjulang sangat tinggi ke angkasa. Dari pucuk daun pohon itu, meneteslah bulan yang semakin membesar dan perlahan kembali menyinari negeri malam. Semua anak di negeri malam bersorak gembira dan bernyanyi lagi untuk bulan. Negeri malam tak lagi pernah sepi dan gelap, nyanyian untuk bulan tak pernah lagi berhenti, raksasa merah pun sudah tak terlihat lagi, ia mati karena kelaparan. Negeri malam menjadi damai dan indah kembali setiap waktunya.