Oleh Della Puspita Rahayu Kelas 7-3
Dipilih itu karena kamu mampu, tapi jika tidak dipilih bukan berarti kamu tidak mampu. Itu berarti bukan jalanmu dari Tuhan, karena Tuhan pasti sudah menentukan jalan yang terbaik untukmu!
***
Pagi yang indah di hari Kamis, yang tanggalnya tidak aku ingat, tetapi kejadiannya aku ingat dengan jelas. Praktik salat dhuha berjamaah dan materi guru di lapangan selesai. Aku berjalan meninggalkan lapangan setelah guru mengucapkan salam penutup. Aku masuk ke dalam kelas, merapikan alat salat, dan mengambil sebuah catatan yang sudah aku siapkan sejak tadi malam.
Aku menyiapkan catatan mata pelajaran Informatika tadi malam. Catatan ini aku siapkan dan aku pahami karena akan ada satu orang yang dipilih oleh guru untuk menjelaskan di depan kelas. Aku sangat ingin dipilih untuk menjelaskannya, mengingat teman di sebelahku pada hari Kamis lalu dipilih untuk maju ke depan kelas. Aku jadi sangat ingin dipilih. Entah apa yang membuatku ingin, mungkin pengakuan, hahaha! Sepertinya memang pengakuan…
Pelajaran Informatika dimulai pada jam pertama. Guru datang dan ketua kelas memimpin doa. Di sini aku mencoba memasang ekspresi serius, sangat berbanding terbalik dengan teman-temanku yang memasang ekspresi gelisah karena takut dipilih untuk maju ke depan kelas. Guru mulai berbicara menyampaikan pelajaran hari ini dan bersiap memilih seseorang untuk menjelaskan tugas Kamis lalu. Di situ aku benar-benar berharap dan merasa akulah yang akan dipilih.
Tetapi, ternyata bukan aku yang dipilih. Jadi, siapa yang dipilih?
Yang dipilih adalah temanku yang duduk di samping teman yang Kamis lalu maju ke depan kelas. Temanku yang terpilih itu berkata kepada guru bahwa ia tidak ingin maju. Aku tidak ingat apa yang dia katakan hari itu, dan akhirnya dia tidak jadi maju ke depan kelas. Di situ aku kembali berharap, namun ternyata tetap bukan aku yang dipilih. Melainkan temanku yang Kamis lalu sudah maju, dia dipilih lagi untuk maju ke depan kelas…
Aku merasa seperti tidak diperlukan di sini. Entah mengapa aku merasa seperti itu, mungkin karena catatan yang aku pelajari menjadi sia-sia. Aku tidak tahu mengapa aku merasa iri, tetapi juga merasa bangga. Sampai di titik itu, aku menyadari sesuatu: penjelasan yang temanku sampaikan dengan penjelasan yang sudah aku siapkan ternyata sangat berbeda.
Astaga, untung saja aku tidak dipilih dan tidak memutuskan untuk mengajukan diri maju ke depan kelas. Aku senang dan sedikit bersyukur karena tidak mempermalukan diriku sendiri di depan kelas….
Aku merenungkan kejadian itu; bahwa dipilih tidak akan membuatmu terbang tinggi ke langit biru, dan tidak dipilih tidak akan membuatmu terkubur di dalam tanah. Seperti temanku yang dipilih, dia tidak terbang tinggi ke langit biru. Aku dan teman-temanku yang tidak dipilih juga tidak terkubur di dalam tanah.
Tuhan pasti sudah menentukan jalan yang terbaik untuk kita, apalagi di bulan Ramadan yang penuh berkah dan hikmah ini!
****
Sudah banyak novel dan buku yang aku baca. Saat membaca, pasti aku membuka lembar baru untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, sama seperti lembar baru yang akan aku buka di bulan Ramadan yang penuh berkah dan hikmah ini.
Aku membuka lembar baru hidupku seperti aku yang selalu membuka lembar baru di setiap novel yang kubaca.
Di lembar baru hidupku, aku mulai belajar menyortir perkataan orang lain seperti penjual sayur yang menyortir cabainya sebelum dijual menjadi uang.
Aku hanyalah seorang pelajar yang masih membutuhkan bimbingan dan pengajaran, tetapi aku akan menyampaikan apa yang aku pelajari dari guru-guru dan orang tuaku di sini.
Malam yang indah di bulan Ramadhan.
Gerimis rintik-rintik tidak menjadi penghalang bagiku untuk pergi ke masjid melaksanakan salat tarawih. Dengan hati yang senang dan girang, aku melangkah bersama teman-temanku menuju masjid.
Aku jarang sekali salat tarawih, apalagi aku yang kaum "mendang-mending" ini, hampir mustahil rasanya pergi ke masjid untuk berjamaah.
Namun, di lembar baru hidupku, aku akan dengan senang hati salat tarawih berjamaah di masjid.
Sampai orang tuaku merasa heran melihatku rajin salat tarawih, hahaha! Selain tarawih, aku juga berusaha melaksanakan salat lima waktu tanpa ada satupun yang terlewat. Tetap saja, namanya juga berusaha, ada beberapa salat yang terlewat karena kesibukanku memainkan ponsel atau yang guruku sebut sebagai "setan gepeng".
Aku mencoba berusaha memperbaiki salatku, walaupun ada saja yang membuatku lupa seperti keasyikan menulis cerita AU baruku, membaca novel di Wattpad, atau membaca komik Cina di Webtoon. Selain membaca dan menulis, aku juga sering meninggalkan salat hanya karena keasyikan menonton drama Cina.
Huft! Aku malah menyalahkan kegiatanku, padahal aku saja yang tidak kompeten dalam melaksanakan salat.
Aku mulai memperbaiki salat lima waktuku di bulan Ramadan yang berkah ini. Aku selalu memasang alarm dengan suara bias-ku di jam-jam salat, lengkap dengan pemberitahuan rutin di ponsel menggunakan fotonya. Tentunya supaya aku semangat! Hahaha!
Guru ngajiku bilang, "Manfaatkan ponselmu dengan baik, anak muda." Hahaha!! Perkataan itu membuatku geli sekaligus bersemangat dalam mencoba memanfaatkan ponselku sebaik mungkin!
Membuka lembar baru itu tidak sulit. Yang sulit adalah niat untuk membaca dan menghayati huruf-huruf itu, sehingga membuatmu menangis saat huruf-huruf itu "menari" menunjukkan kesedihan, atau justru membuatmu salah tingkah.
Ayo, buka lembar baru hidupmu di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Jadikanlah hal yang terlihat tidak bermanfaat menjadi bermanfaat sesuai versimu.