Menjahit Nurani Bangsa: Belajar Jujur dari Sepasang Sepatu Bung Hatta
Home » Karya Nonfiksi  »  Menjahit Nurani Bangsa: Belajar Jujur dari Sepasang Sepatu Bung Hatta

Penulis RDM

WhatsApp Image 2026-02-08 at 21.47.47

Pernahkah kalian merasa sangat menginginkan sesuatu, tapi tahu bahwa uang di saku tidak akan pernah cukup untuk membelinya? Bagi banyak orang yang memegang kuasa, solusinya mungkin mudah: gunakan jabatan atau cari "uang tambahan". Namun, bagi Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama kita, keinginan pribadi justru menjadi ujian tertinggi bagi harga dirinya. Kisah Bung Hatta bukan sekadar dongeng masa lalu yang membosankan; beliau adalah sosok nyata yang menunjukkan bahwa pendidikan antikorupsi harus dimulai dari pengendalian diri, bukan sekadar menghafal aturan.

​Salah satu cerita yang paling menyentuh hati terekam dalam buku "Mengenang Bung Hatta" yang disusun oleh putri sulung beliau, Meutia Farida Hatta. Di sana diceritakan bahwa Hatta menyimpan guntingan iklan sepatu merek Bally di dalam dompetnya selama bertahun-tahun. Sebagai orang nomor dua di republik ini, beliau tentu punya seribu cara untuk mendapatkan sepatu itu dengan mudah. Namun, sebagaimana diulas dalam riset Seri Buku Tempo: "Hatta, Jejak yang Tak Terhapus", beliau memilih untuk menabung dari sisa honorariumnya yang terbatas. Tiap kali tabungannya hampir cukup, beliau justru memberikan uangnya kepada kerabat atau warga yang datang meminta bantuan. Sampai akhir hayatnya, sepatu itu tidak pernah terbeli. Ini adalah tamparan bagi kita: Hatta mengajarkan bahwa keren itu bukan soal barang mewah, tapi soal berani berkata "tidak" pada sesuatu yang bukan hak kita.

​Keteladanan Hatta inilah yang seharusnya menjadi nyawa dalam pendidikan antikorupsi di sekolah saat ini. Kita tidak bisa hanya mengajarkan bahwa korupsi itu dosa atau melanggar hukum. Sejarawan Deliar Noer dalam bukunya "Mohammad Hatta: Biografi Politik" menekankan bahwa kekuatan Hatta ada pada kemampuannya memisahkan urusan pribadi dan negara. Contohnya sangat nyata: saat istri beliau, Ibu Rahmi, gagal membeli mesin jahit karena tabungannya mendadak tak bernilai akibat kebijakan pemerintah, Hatta tetap diam. Beliau tahu rahasia negara tentang perubahan nilai uang itu, tapi menolak membocorkannya kepada istrinya sendiri demi keuntungan keluarga. Pendidikan moral kita harus berani menanamkan prinsip ini: bahwa kejujuran harus berdiri di atas kepentingan orang-orang terdekat.

​Lebih jauh lagi, kejujuran Hatta bukan cuma soal tidak mencuri, tapi soal rasa tanggung jawab yang luar biasa terhadap uang rakyat. I. Wangsa Widjaja, sekretaris pribadi yang mendampingi beliau selama puluhan tahun, mencatat dalam memoarnya bahwa setiap kali pulang dari perjalanan dinas, Hatta selalu menghitung sisa uang saku pemberian negara hingga rupiah terakhir dan mengembalikannya ke kas negara. Beliau merasa "ngeri" jika membawa pulang uang yang bukan miliknya. Bayangkan jika setiap siswa memiliki rasa "ngeri" yang sama saat ingin menyontek atau memanipulasi anggaran kegiatan sekolah. Inilah inti dari pendidikan antikorupsi yang sesungguhnya: membangun rasa malu.

​Kita butuh pendidikan yang tidak hanya mencetak orang pintar, tapi juga orang yang punya nurani. Meneladani Hatta berarti mengajarkan generasi muda bahwa kejujuran mungkin membuat hidup kita terlihat sederhana, namun ia memberikan ketenangan tidur yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan mana pun. Jika kita ingin Indonesia bersih, antikorupsi jangan hanya jadi jargon, tapi harus jadi gaya hidup—persis seperti yang dilakukan Hatta dengan potongan iklan sepatu di dompetnya.