Karya RDM
Lelaki tua di seberang meja kerja yang penuh oli itu menatapku dengan iba. Di tangannya, sebuah mesin tik Olympia tua milik Ayah teronggok seperti rongsokan yang baru saja diangkat dari kubur. Warnanya sudah kusam, tertutup kerak tanah merah yang telah membatu di sela-sela tuasnya.
"Mas, ini bukan cuma macet karena karat," suaranya serak, khas orang yang menghabiskan hidupnya memperbaiki waktu. "Ada sesuatu yang sengaja diselipkan di balik pegas ini. Sesuatu yang bikin huruf 'A' ini terkunci rapat. Sepertinya diselipkan tepat sebelum lumpur itu menghantam rumah kalian."
Aku terdiam. Dadaku sesak, seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku. Huruf 'A'. Huruf pertama dari namaku, dan juga huruf pertama dari kata Ayah. Di Takengon, akhir Desember selalu menjadi bulan yang jahat bagi ingatanku.
***
Tiga tahun lalu, hujan di dataran tinggi Gayo tidak turun sebagai air, tapi sebagai ancaman. Suaranya menderu di atas atap seng, memekakkan telinga. Ayah, dengan kacamata yang melorot di hidungnya, sibuk di ruang kerja kecilnya. Ia sedang mengetik sesuatu, jemarinya menari lincah di atas mesin tik ini.
"Sedikit lagi, Nak," katanya sambil tersenyum tanpa menoleh. "Ini kado akhir tahun untukmu. Sesuatu yang akan bikin kau paham kenapa Ayah tetap mau kita tinggal di kaki bukit ini."
Lalu, dalam sekejap, dunia seolah kiamat. Bukan suara guntur yang kudengar, melainkan erangan bumi yang robek. Banjir bandang yang membawa material longsor dari puncak bukit menghantam rumah kami. Aku hanya ingat tangan Ayah yang kasar dan kuat mendorongku keluar lewat jendela, sebelum ia sendiri ditelan oleh gelombang tanah merah dan kayu gelondongan yang meruntuhkan dinding ruang kerjanya.
Ayah tak pernah ditemukan. Hilang dalam dekapan tanah yang ia cintai. Hanya mesin tik ini yang berhasil digali warga berminggu-minggu kemudian—benda bisu yang terkunci tepat saat Ayah hendak menyelesaikan kalimatnya.
***
"Coba lihat ini, Mas," si tukang servis menarik paksa selembar plastik kedap udara yang terjepit di bawah mekanisme mesin. Plastik itu membungkus sesuatu dengan sangat rapat, melindunginya dari lembabnya tanah bertahun-tahun.
Tanganku bergetar hebat saat menerimanya. Di dalamnya ada sebuah kunci kuningan kecil dan secarik kertas dari buku saku Ayah. Tulisannya hampir luntur, namun aku mengenali lekukannya:
"Ke kebun kopi kita yang paling atas, Nak. Cari pohon alpukat yang dulu kita tanam bersama saat kau umur tujuh tahun. Gali di akarnya. Hadiahmu ada di sana, dijaga oleh tanah yang kupelihara dengan jujur."
Malam itu juga, di malam pergantian tahun yang riuh oleh kembang api di kejauhan, aku mendaki bukit menuju kebun kopi kami. Angin Aceh Tengah yang dingin menusuk tulang, tapi nafasku memburu karena rindu. Aku menemukan pohon alpukat itu—ia tetap tegak meski separuh bukit di sekitarnya pernah luruh. Dengan tangan telanjang, aku menggali. Aku membiarkan kuku-kukuku kotor dan berdarah oleh tanah merah yang sama yang telah merampas Ayah dariku.
***
Aku menemukan sebuah kotak besi kecil. Di dalamnya, ada sebuah sertifikat kepemilikan kebun yang sudah dibalik nama atas namaku, dan sebuah surat panjang yang ditulis dengan tinta hitam yang tegas.
Ayah bercerita tentang perjuangannya menolak tawaran perusahaan tambang yang ingin mengeruk bukit kami. Ia bertahan bukan karena keras kepala, tapi karena ia tahu jika pohon-pohon itu ditebang, desa di bawahnya—termasuk aku—akan habis tersapu bencana yang lebih besar.
"Nak, kado tahun ini adalah 'Amanah'. Ayah tidak memberimu kemewahan, tapi Ayah memberimu tanah yang punya harga diri. Maaf jika hadiah ini harus kau gali dari tanah. Ayah ingin kau tahu bahwa akar yang kuat adalah satu-satunya cara untuk bertahan saat badai hidup datang."
Aku terduduk bersimpuh di atas tanah merah itu. Air mataku tumpah, menyatu dengan bumi yang kini tak lagi terasa jahat. Kembang api meledak di langit Takengon, memantul di permukaan Danau Laut Tawar yang sunyi.
***
Aku pulang ke rumah kontrakan kecilku dengan jiwa yang tak lagi kosong. Aku duduk di depan mesin tik yang kini sudah bersih dan mengkilap. Aku masukkan selembar kertas putih bersih.
Aku menekan huruf 'A'.
CEKLEK
Bunyinya begitu jernih, bergema di ruangan yang sepi. Aku tidak lagi mendengar suara longsor itu. Aku hanya mendengar suara Ayah yang berbisik lewat detak mesin. Aku terus mengetik. Aku mengetikkan namaku, lalu nama Ayah di bawahnya.
Tahun ini, aku tidak meratapi kehilangan. Aku merayakan sebuah kepulangan. Ayah tidak pergi; ia hanya berpindah tempat, dari ruang kerja yang runtuh, ke dalam akar jiwaku yang kini tumbuh lebih kuat.