Tiga Perempuan, Satu Pertanyaan
Home » Karya Fiksi  »  Tiga Perempuan, Satu Pertanyaan
Untitled design

Ruang guru itu diselimuti keheningan yang tegang, bukan karena suasana suram, melainkan karena kebisuan yang mengikuti perdebatan mereka. Matahari yang mulai terbenam di ufuk barat, memancarkan warna jingga di jendela, seolah mencerminkan perasaan mereka.

​"Aku masih tidak yakin," gumam Bu Retno, kelembutannya mirip mentari Yogyakarta, tapi kini ada keraguan di matanya. "Ide ini memang menyenangkan, tapi apa tidak membuat mereka jadi lebih bergantung pada teknologi? Kita malah melegitimasi penggunaan aplikasi itu di kelas."

​"Retno, kita harus beradaptasi! Kalau kita melarang, mereka akan tetap melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Lebih baik kita arahkan, kita kendalikan," jawab Bu Riska, guru dari Padang yang energinya berapi-api, tapi kini nadanya terdengar frustrasi. "Aku sudah menghabiskan tiga malam merancang 'Matematika Kocak'. Aku bahkan sudah merekam dua episode. Sekarang, apakah semua itu sia-sia?"

​"Mengendalikan apa? Ketergantungan?" Bu Tini, guru dari Cilacap yang praktis, menyela, "Aku setuju sama Retno. Anak-anak sekarang itu lho, sudah terlalu nyaman. Mereka tidak tahu rasanya berjuang memecahkan soal. Semuanya serba instan." Bu Tini menunjuk ke tumpukan lembaran tugas di mejanya. "Ini, tugas yang aku berikan, bahkan 80% di antaranya dikerjakan di aplikasi. Anak-anak yang dulunya rajin bertanya, sekarang hanya menatap ponsel mereka. Proses berpikir mereka, nalar mereka, semua hilang!"

​Diskusi itu buntu, masing-masing tenggelam dalam ketakutan dan frustrasi mereka sendiri. Mereka adalah tiga guru matematika yang berbeda, namun disatukan oleh satu masalah: bagaimana mengajar logika di era di mana semuanya serba ajaib? Mereka merasa seperti ksatria yang memegang pedang kuno, berhadapan dengan lawan yang menggunakan senjata laser.

​Ponsel Bu Retno berdering, memecah ketegangan. Panggilan dari kepala sekolah. Dengan ragu, ia menjawabnya. Wajahnya seketika berubah pucat. Suara kepala sekolah terdengar dingin, penuh penyesalan, "Bu Retno, saya baru saja menerima keluhan dari beberapa orang tua. Mereka bilang, tugas-tugas kita terlalu 'aneh'. Mereka lebih suka pendekatan yang konvensional, yang lebih fokus pada nilai dan kelulusan, bukan 'pantomim matematika' atau 'video TikTok'."

​Bu Retno menelan ludah. "Tugas itu kan untuk menumbuhkan...".

​"Saya mengerti, Bu. Tapi kita harus mendengarkan keluhan mereka. Mereka membayar mahal untuk sekolah ini, dan mereka ingin melihat hasil yang konkret. Kita tidak bisa mengambil risiko dengan nilai akademis anak-anak mereka. Untuk sementara, kembali ke metode lama, ya."

​Ponsel itu jatuh dari tangan Bu Retno, menciptakan suara yang memilukan. Suasana hening kembali, kali ini lebih berat. Mereka menatap satu sama lain, mata Bu Retno berkaca-kaca, Bu Tini menunduk, dan Bu Riska terlihat seperti jiwanya dicabut dari raga.

​"Jadi... kita harus kembali ke cara lama?" tanya Bu Tini, nada suaranya penuh kekecewaan, "Kita harus kembali mengajar seperti mesin?"

​"Untuk sementara, ya," bisik Bu Retno, suaranya bergetar. "Mungkin ini tanda. Mungkin ini bukan waktunya. Atau... mungkin kita yang harusnya lebih memahami mereka. Bahwa di balik tuntutan orang tua yang 'aneh', ada ketakutan mereka sendiri. Ketakutan bahwa anak-anak mereka akan tertinggal di era yang serba kompetitif ini."

​Bu Riska tiba-tiba berdiri. Wajahnya memerah, bukan karena semangat, melainkan amarah. "Aku tidak bisa! Kita sudah mencoba! Mereka tidak mau mengerti! Mereka pikir pendidikan itu semudah membeli barang di toko daring. Tinggal bayar, barang datang. Padahal pendidikan itu proses, perjuangan, air mata, keringat!" Ia menatap Bu Retno dan Bu Tini, matanya berapi-api. "Ini bukan soal kita melawan teknologi, tapi kita melawan sistem yang sudah rusak!"

​Air mata menetes di pipi Bu Riska. Tangisnya pecah. Ini bukan tangisan kekalahan, melainkan tangisan frustrasi. Selama ini, ia selalu menjadi yang paling bersemangat, yang paling optimis, yang paling percaya pada perubahan. Namun, kini ia merasa lelah. Ia merasa seperti berteriak di dalam ruang kosong.

​Tiba-tiba, pintu ruang guru terbuka. Seorang murid laki-laki, yang biasanya pendiam dan cenderung apatis, berdiri di ambang pintu. Matanya sembab. Ia adalah murid yang tugasnya selalu diselesaikan dengan aplikasi.

​"Maaf, Bu... saya hanya ingin bertanya," suaranya pelan dan bergetar, "soal nomor 7 yang Ibu berikan... kenapa hasilnya tidak sama dengan di aplikasi? Saya sudah coba berkali-kali, tapi hasilnya beda."

​Ketiga guru itu tertegun. Ini adalah pertama kalinya murid itu menunjukkan inisiatif, atau bahkan kebingungan, terhadap soal yang diberikan. Bu Riska mengusap air matanya. Bu Tini menatap Bu Retno dengan mata membelalak. Dan Bu Retno, dengan lembutnya, mengambil lembaran soal itu.

​"Ini dia," gumam Bu Retno, senyumnya perlahan mengembang. "Di sini ada jebakan. Ada satu kata kunci yang sengaja Ibu tambahkan untuk membuat aplikasinya salah menghitung. Hanya nalar manusia yang bisa memecahkannya."

​Murid itu menatap Bu Retno dengan mata penuh harap, seolah baru saja menemukan harta karun. Tiba-tiba, ia mengeluarkan buku catatannya yang lusuh, penuh coretan dan angka-angka yang salah. "Saya sudah mencoba memecahkannya sendiri, Bu. Saya hanya ingin tahu, apakah saya berada di jalur yang benar?"

​Di bawah langit senja yang gelap, tiga perempuan dari tiga daerah berbeda ini bersatu dalam satu pemahaman. Kekalahan mereka tadi sore bukanlah akhir, melainkan awal. Mereka tidak perlu berteriak melawan sistem atau teknologi. Yang mereka butuhkan hanyalah sebuah pancingan, sebuah tantangan kecil yang bisa membangkitkan kembali nalar dan rasa ingin tahu yang telah lama tertidur.

​Meskipun hari itu mereka kalah, mereka tahu, perjuangan mereka tidak akan sia-sia. Mereka akan terus mencari cara, sampai suatu saat nanti, api logika dan penalaran itu kembali menyala di hati setiap muridnya, bukan karena keajaiban teknologi, melainkan karena keajaiban yang ada di dalam diri mereka sendiri.